Monday, October 31, 2011

RENUNGAN: MENCARI PEMIMPIN YANG BAIK

Mencari Pemimpin...


SEMUA orang mungkin sudah sering mendengar kata “pemimpin”. Secara mudahnya pemimpin bererti seseorang yang memimpin orang lain. Pada hakikatya, setiap manusia adalah seorang pemimpin, paling tidak, pemimpin bagi anggota tubuhnya.
Pemimpin memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam menjamin bahawa orang yang dipimpinnya berjalan menuju arah dan cita-cita bersama. Arah dan cita-cita inilah yang menjadi acuan dalam  membuat kebijakan dan keputusan. Jadi sebenarnya setiap manusia memiliki potensi alami untuk menjadi seorang pemimpin.
Kelam-kabut kehidupan masyarakat, membuat banyak orang akan pesimis terhadap pemimpin mereka. Bahkan terhadap pemimpin-pemimpin yang mereka pilih sendiri dengan jalan demokrasi. Semenjak tema demokrasi terbuka lebar selepas kemerdekaan, setiap orang bebas mengeluarkan pendapat, berorganisasi dan menubuhkan parti politik untuk menyalurkan aspirasi “rakyat”. Namun, sejak akhir-akhir ini, banyak saluran aspirasi ini ternyata tidak dapat menyentuh rakyat yang dipimpinnya. Saluran-saluran aspirasi ini hanya menyentuh segelintir “rakyat” nya dan memenuhi pundi-pundi kelompoknya. Sehingga sebenarnya kita perlu memberikan definisi semula terhadap kata “rakyat”. Rakyat manakah yang sebenarnya dimaksudkan di dalam setiap kempen pilihanraya yang terlontar sebelum karnival demokrasi digegarkan?
Setiap rakyat  memiliki hak untuk memilih dengan bebas pemimpinnya yang dapat membawa kehidupan mereka menjadi lebih baik. Lantas, adakah kriteria yang harus dipenuhi oleh calon-calon pemimpin ini? Apakah pemilihan nanti ini dapat memberikan perubahan yang bererti bagi kehidupan rakyat kita? Atau hanya sebuah pesta demokrasi yang hanya dinikmati oleh segelintir orang untuk memenuhi impian dan cita-citanya menjadi penguasa atas kehidupan rakyatnya. Belum pun lagi pesta demokrasi ini diisytiharkan, pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sudah kelam-keribut saling menjegal dan menjatuhkan lawannya  masing-masing.

Adakah mereka akan menjadi pemimpin atau hanya menjadi sekadar penguasa? Jika, mereka hanya mengejar menjadi seoarang penguasa, tidak ada gunanya melaksanakan pilihanraya yang memerlukan perbelanjaan yang cukup mahal ini. Dirikan sahaja sebuah regim dengan parti tunggal atau kalau perlu sebuah “monarki absolut”. Selesai dan semuanya beres (untuk di dunia belum tentu akhirat nanti).

Kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang revolusioner dan memiliki visi yang jauh ke depan. Pemimpin yang benar-benar dapat mempersatukan masyarakat pelbagai kaum, bukan pemimpin yang memecah belah masyarakat. Pemimpin yang dapat mengetahui keinginan rakyatnya dan menempatkan orang-orang yang profesional di bidangnya untuk menjamin keperluan rakyat tercapai dan terpenuhi dengan baik. Bukan pemimpin yang hanya memenuhi keinginan segelintir orang dalam kelompoknya dengan mengabaikan sikap profesional. Pemimpin yang mampu menempatkan orang yang tepat pada saat yang tepat dan bukan sebaliknya seperti hadis nabi berikut ini, “Jika sebuah perkara telah diberikan kepada orang yang tidak semestinya (bukan ahlinya), maka tunggulah kiamat (kehancurannya) (HR Bukhari)”.
Tentulah kita tidak menginginkan kehancuran tersebut terjadi dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Masih ada orang-orang yang memiliki hati dan jiwa yang bersih yang ingin bersusah payah memperbaiki kepayahan rakyat. Masih banyak calon-calon pemimpin yang tidak mengejar kekuasaan semata-mata dan menjadi raja di negera atas permintaannya sendiri. Pada realitinya, pemimpin adalah pelayan untuk rakyatnya dan bukan  meminta dilayani oleh rakyatnya. Maka, carilah pemimpin yang bersedia menjadi pelayan rakyat, bersedia berbaur bersama rakyat dan bersedia membuat kontrak politik dengan rakyatnya.
Pemimpin revolusioner adalah pemimpin yang rela untuk turun dari jabatannya dan mempersiapkan generasi muda yang tangguh sebagai kadernya untuk mengambil tongkat estafet kepemimpinan. Pemimpin yang revolusioner adalah pemimpin yang mahu mendengar kritikan terhadap segala kebijakan yang diambilnya dan menyusun strategi jangka panjang untuk memperbaiki kelemahan kepemimpinannya.
Seandainya para pemimpin kita mahu duduk, saling mendengar dan melepaskan ego masing-masing, pasti tidak akan menjadi masalah siapa yang menjadi pemimpin, kerana semua strategi dan perencanaan kepemimpinan jangka panjang sudah tertuang dalam suatu “master plan”. “Master Plan” kepemimpinan inilah yang menjadi acuan bersama untuk mencapai cita-cita bersama juga. Persoalannya, masih adakah pemimpin-pemimpin kita yang rela duduk bersama dan meninggalkan kepentingan sesaat mereka untuk mengejar cita-cita dan visi yang jauh ke hadapan.
Suasana inilah yang sangat dirindukan oleh rakyat, iaitu suasana di mana pemimpin-pemimpin tidak saling berambisi memperebutkan kekuasaan. Alangkah indahnya bila para pemimpin kita merenungi kembali kehidupan kepemimpinannya sewaktu di alam fitrah kehidupan mereka dahulu kala.

Kita masih belum di persimpangan jalan yang sembrawut, masih banyak pilihan-pilihan yang dapat dibuat untuk memperbaiki keadaan menuju negara sejahtera. Salah satu caranya adalah dengan memilih pemimpin yang mempunyai niat untuk menegakkan “Good Governance”, pemimpin yang berani memerangi korupsi, pemimpin yang bersedia untuk dikritik, pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab dan pemimpin yang bersedia untuk mengundurkan diri apabila dia gagal memenuhi kontrak politiknya terhadap rakyat. Adakah calon pemimpin yang berani menandatangani kontrak politik tersebut. Dialah yang akan menjadi pilihan pertama dalam pilihanraya ke 13 nanti .

~Renungan iklas buat jiwa yang waras.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...