Sunday, May 22, 2011

Jangan Membela Orang Fasik

 Ada orang menyatakan bahawa media moden memiliki motto  'a bad news is good news'. Maksudnya setiap peristiwa buruk menjadi sumber pemberitaan.
Oleh kerana media bermotto seperti itu sangat rajin mengumpulkan dan menyebarluaskan berbagai kejadian yang mengandung kemaksiatan, perbuatan keji, permusuhan, perbalahan, konflik dan jenayah.

Semakin heboh sesuatu  peristiwa semakin bersemangat para kuli tinta sekuler memburunya. Itulah realiti pelbagai media yang berkarakter moden . Dia tidak peduli jika berita yang disebarluaskan melanggar akhlak ajaran Allah.
Mereka hanya mengutamakan bagaimana caranya agar tahap populariti atau kedudukannya tinggi di mata para pembaca, pendengar atau penontonnya. Semakin tinggi kedudukan populariti, maka semakin besar pendapatan yang dihasilkan. Inilah realiti dunia media-massa pada umumnya di zaman penuh fitnah  ini.

 Sesungguhnya kini, masalah yang timbul sudah cukup parah. Keadaan ini menjadikan masyarakat setiap hari harus mendengar, menyaksikan dan mengunyah-ngunyah berbagai berita buruk yang sudah tentu mempengaruhi otak dan hatinya. Dan akibat selanjutnya, masyarakat cenderung mengalami de-sensitisasi (penurunan kehalusan perasaan/penginderaan) terhadap berbagai perilaku kemaksiatan, perbuatan keji, permusuhan, perbalahan, konflik dan kriminal yang diberitakan media-massa.

 Masyarakat kian hari menjadi semakin terbiasa dengan berbagai keburukan tersebut sehingga menjadi kebiasaan terhadap semua perkara keji tersebut. Akhirnya hilanglah ghirah (kecemburuan) di dalam diri dan akhirnya spirit amar maâruf nahi munkar (menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran) menjadi langka atau dapat dikatakan mati sama sekali.

Sukar untuk menemukan media masa kini yang berfungsi sebagai pelita di tengah kegelapan zaman penuh fitnah. Media yang menyebabkan manusia menjadi ingat dan tunduk tawaduk kepada Allah swt . Media yang menyebarluaskan optimisme akan masa depan  kebangkitan kembali dienullah Al-Islam. Media yang meyakinkan masyarakat bahawa hanya dengan kembali kepada Al-Islam sahajalah dunia akan menemukan keadilan, kedamaian dan kesejahteraan hakiki. Media yang tidak ikut terperusuk dalam kotak fanatisme kelompok, golongan maupun ideologi politik. Media yang sentiasa mengingatkan masyarakat bahawa kehidupan dunia bersifat fana dan akan sirna, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan sejati dan abadi. Media yang meyakinkan ummat bahwa sepahit apapun penderitaan dunia, sesungguhnya  tidak setara dengan kesengsaraan hakiki Murka dan Neraka Allah di akhirat  nanti. Media yang terus-menerus menyedarkan masyarakat bahwa sehebat apapun kesenangan dunia, namun  tidak wajar diburu dan dikejar sebagaimana seharusnya berkompetisi memburu kebahagiaan hakiki redha dan Jannah Allah di akhirat kelak. Media yang menyutip semangat setiap orang beriman agar selalu memperjuangkan satu dari dua kebaikan, yakni hidup mulia di bawah naungan Syariat Allah mati syahid.

 Sesungguhnya masalah yang timbul sudah cukup memualkan. Tetapi masalahnya tidak hanya itu. Sudahlah media yang beredar umumnya sekuler lalu ditambah lagi dengan realiti pahit bahwa masyarakat yang menikmati media seperti itu umumnya merupakan masyarakat yang mudah terprovokasi.

Masyarakat pecacai media moden sekuler sangat mudah dipancing emosinya untuk bereaksi yang sungguh jauh dari dewasa dan bertanggung-jawab, apalagi bersikap Islamik...! Dalam merespon media penyebar kerusakan, kebanyakan masyarakat terbahagi menjadi dua. Sebahagian menjadi corong yang turut menyebarkan lebih lanjut apapun berita atau info media tadi. Padahal boleh jadi sebenarnya berita yang disebarkan tidak benar alias palsu.

Kadangkala orang yang menyebarkan berita tanpa sedar telah terlibat dalam menghunjang orang yang soleh semata-mata kerana  tidak suka kepada orang tersebut atau kelompok  orang tersebut merupakan anggota di dalamnya. Tetapi boleh juga terjadi bahwa tanpa sedar kita secara membabi-buta atas dasar taqlid membela orang yang memang benar-benar terlibat suatu kemaksiatan semata-mata kerana yang diberitakan itu adalah kawan dekat atau teman sekelompok, golongan atau pertubuhan politik.

Sesungguhnya kini kita sedang menjalani zaman penuh fitnah. Masyarakat begitu mudah terpancing untuk harus berpihak ketika mengikuti suatu isu yang ditebur oleh media. Seolah-olah hanya ada dua pilihan iaitu menyetujui isi pemberitaan atau mengingkarinya. Padahal menyetujui seringkali bererti turut menebar fitnah, gosip dan dusta. Sebaliknya, mengingkari terkadang menyebabkan hilangnya sikap objektif dan menyuburkan fanatisme kelompok yang bersifat irrasional. Right or wrong is my group, my organization and my party. Allah  mengharuskan seorang muslim bersikap adil dan objektif.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ
شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ
أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi kerana Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. (QS An-Nisa 135)

Janganlah kerana pihak yang memperoleh pemberitaan negatif di media adalah seorang yang rapat dengan kita maka dengan membabi-buta kita membela dia. Seolah-olah orang tersebut tidak pernah terlibat dengan kesalahan dan dosa.

Waspadalah kita, jangan sampai tanpa sedar kita  membela dengan kaca mata kuda seseorang yang sebenarnya dikategorikan Allah sebagai orang fasiq (jahat). Janganlah spirit kepartian dibiarkan berkembang menjadi virus fanatisme golongan yang dibenci Allah  dan Rasulullah.

Ingatlah, kita semua pasti akan dipertanggung-jawabkan apapun yang telah kita lakukan, ucapkan dan perbuat.

Jangan asal memihak kepada kelompok yang kita merasa sudah dekat dengannya. Padahal siapa pun di dunia ini - selain Nabi Muhammad - boleh tergelincir ke dalam kesalahan dan dosa. Selain Allah  dan RasulNya  tidak ada golongan yang dapat mendakwa dirinya atau kelompoknya sebagai pemilik kebenaran sejati.

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.(QS Al-Israa 36)
 Janganlah kebencian kita kepada orang atau kelompok tertentu menyebabkan kita terikut-ikut menjadi  sebagaimana  para insan media sekuler semata-mata kerana kita senang melihat pihak lawan  kita tersingkap aib dan kelemahannya di depan umum.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ
شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ
وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ
عَلَى أَلا تَعْدِلُوا
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) kerana Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, kerana adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS Al-Maidah 8)
Walaupun kita tidak menyetujunya terhadap seseorang atau suatu kelompok tertentu, hal itu tidak boleh dijadi isu untuk menyebar luas aib dan kesalahan mereka.

Kita harus sentiasa ingat dan yakin bahwa para malaikat tidak pernah lalai mencatat setiap perbuatan manusia, baik dikerjakan di tempat terbuka atau pun tertutup. Allah merupakan Dzat Yang Maha Adil. Allah  pasti akan memberikan ganjaran yang setimpal atas setiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun. Setiap amal kebaikan akan memperoleh ganjaran yang setimpal dan setiap amal keburukan memperoleh hukuman yang juga setimpal.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarah pun, nescaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, nescaya dia akan melihat (balasan) nya pula.(QS Az-Zalzalah 7-8)

-Apa yang baik datang dari Allah, dan yang buruk atas kelemahan diri sendiri, semuga semua beroleh manfaat yang sewajarnya. Amein.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...